Scrum pada perusahaan berbasis fintech
Pada tahun 2017 hingga saat ini merupakan era dimana banyak perusahaan berbasis fintech yang berdiri dan berkembang diindonesia dimana masing masing perusahaan saling bersaing untuk memberikan produk/fitur yang terbaik bagi customer. Tidak sedikit juga dari perusahaan tersebut yang mengganti pola kerja mereka ke arah agile terutama scrum. Sebut saja fitur dompet virtual yang diterapkan di beberapa startup fintech dan digunakan untuk menyimpan saldo customer
Untuk fitur tersebut pasti membutuhkan waktu yang cepat dalam proses release nya agar dapat segera dipakai masyarakat luas. Sehingga menurut sebagian besar fintech, scrum akan membantu mereka dalam melakukan hal tersebut.
Konsep pola kerja scrum sendiri berfokus pada empiris yaitu pengetahuan datang dari pengalaman dan pengambilan keputusan didasari oleh apa yang telah diketahui hingga saat ini. Scrum sendiri tidak memerlukan big picture secara keseluruhan dari fitur yang ingin dikembangkan dan lebih mengandalkan feedback serta pendekatan yang berkelanjutan guna mengoptimalkan kemampuan prediksi dan pengendalian resiko.
Mari ambil contoh pengembangan fitur dompet virtual pada salah satu fintech :
A. Pada sprint planning, scrum team akan menentukan sprint goal yang ingin dicapai dalam pengembangan fitur baru ini dan product owner akan menambahkan fitur ini sebagai product backlog item sehingga development team dapat menentukan ruang lingkup sprint backlog yang akan dikerjakan nantinya
B. Setiap hari, development team akan mengadakan daily scrum untuk memastikan bahwa product yang dikembangkan tidak keluar jalur dari spint goal yang diharapkan
C. Apabila time box pada sprint telah selesai maka fitur dompet virtual akan dilakukan pengecekan pada sprint review dimana seluruh scrum team dan stakeholder akan melakukan review terhadap fitur yang dikembangkan. Jika fitur telah menemukan definition of done (DoD) nya maka fitur tersebut siap direlease baik secara partial maupun keseluruhan. Product owner juga melakukan peninjauan bagaimana keadaan pasar dan potensi penggunaan produk tersebut
D. Ketika sprint retrospective, scrum team juga membuat peningkatan (increment) dalam proses kerangka kerja agar pengembangan produk di sprint selanjutnya menjadi lebih efisien
Berdasarkan contoh tersebut kita dapat menarik kesimpulan bahwa scrum cocok diterapkan pada produk yang pengembangannya bersifat berkesinambungan. Sehingga beberapa perusahaan fintech mempercayakan pola kerja ini dalam pengembangan produk mereka
Komentar
Posting Komentar